Share It  Berita Terkini, Unik & Menarik

Nyonya Meneer: Perjalanan Hidup Lauw Ping Nio si Penjual Jamu

Inspirasi 10 Months, 3 Weeks ago
Jamu umumnya digunakan masyarakat Indonesia sebagai minuman obat alami untuk menjaga kesehatan, menyembuhkan berbagai penyakit dan menjaga stamina tubuh. Tradisi minum jamu ini diperkirakan sudah ada sejak 1300 M dan merupakan warisan budaya bangsa. Sejarah Jamu Nyonya Meneer di tanah air tak lepas dari kiprah seorang wanita bernama Lauw Ping Nio, kelahiran Sidoarjo, Jawa Timur, pada tahun 1895.

Jamu Meneer 1Sumber foto: kabarlokal.id

Nama Meneer sendiri berasal dari cerita kecilnya, bahwa sang ibu suka mengonsumsi sisa beras yang halus hasil dari penumbukan padi atau menir, saat tengah mengandung dirinya. Menir sendiri adalah pecahan (ujung) beras yang selain bisa dimakan, juga biasa dimanfaatkan untuk pakan ternak pada itik dan ayam. Saat Lau Ping Nio lahir, orangtuanya lantas memanggilnya Menir (Meneer dalam ejaan Belanda).

Bersama sang suami, Ong Biang Wan, yang merupakan warga Surabaya, pindah ke kota Semarang, Jawa Tengah, sekitar tahun 1900-an. Saat itu, mereka hidup dalam masa sulit dan sang suami tengah sakit-sakitan. Kemudian, Lauw Ping mencoba meracik jamu guna mengobati sang suami berbekal dari pengetahuan meramu jamu turun-temurun yang didapat dari keluarganya.

Sejak saat itu terlihatlah bakat dari Lauw Ping dalam meracik jamu yang diturunkan oleh orangtuanya dahulu. Seiring berjalannya waktu, Luw Ping semakin bersemangat dalam mengasah ilmu meracik jamu tersebut. Tidak sedikit dari masyarakat sekitar, tetangga, juga keluarga yang sakit, telah terbantu dengan adanya jamu racikan darinya.

Jamu Meneer 2Sumber foto: regnews.com

Karena manjur dan dirasa sukses mengobati sang suami, Lauw Ping memutuskan mendirikan sebuah usaha pembuatan jamu tradisional dengan merk Jamu Cap Nyonya Menner pada tahun 1919. Ia menggunakan dapur rumahnya sebagai tempat produksi dan kemudian memasarkan jamu hasil racikannya kepada warga sekitar rumahnya. Seiring berjalannya waktu, bersama beberapa perusahaan jamu lainnya, seperti Sido Muncul, Air Mantjur, dan Jamu Djago, nama Njonja Meneer menjelma menjadi salasatu industri jamu terbesar di Indonesia.

Lauw Ping mendirikan pabrik di Semarang, yang kemudian dibantu oleh anaknya, Nonnie, membuka cabang toko Jamu Nyonya Meneer di jalan Juanda, Pasar Baru, Jakarta pada tahun 1940. Perusahaannya pun berkembang pesat dan kolaborasi ibu dan anak cukup sukses. Namun, sangat disayangkan gedung bersejarah itu kini sudah tertutup oleh para pedagang kaki lima di depannya, hanya menyisakan tembok yang kusam penuh cerita.

Jamu Meneer 4Sumber foto: lamiajournale.blogspot.com

Produk dari Nyonya Meneer yang terkenal di kalangan masyarakat di antaranya, seperti Galian Putri, jamu Sariawan, Amurat, Sakit Kencing, Sehat Wanita, Pria Sehat, Galian Rapet, Bibit, Mekar Sari, Galian, jamu Habis Bersalin, Awet Ayu, Gadis Remaja, Susu Perut, jamu Langsing, Wasir dan tentu saja Minyak Telon.

Jamu Nyonya Meneer sempat meraih penghargaan dari Tien Soeharto pada tahun 1984. Penghargaan tersebut berupa Museum Jamu Nyonya Meneer yang berlokasi di Jalan Raya Kaligawe, Semarang, Jawa Tengah. Dalam museum tersebut terdapat berbagai bahan baku racikan jamu dan sejumlah patung perempuan yang tengah berdiri menumbuk racikan jamu. Selain itu, terdapat juga koleksi foto pribadi Nyonya Meneer. Tahun 2015, produk jamu tersebut meluas hingga ke Taiwan setelah sebelumnya merambah Amerika Serikat, Malaysia, Brunei, Australia, dan Belanda.

Sang perintis jamu tradisional itu tutup usia di tahun 1978, dan usaha jamunya kemudian diteruskan ke 5 orang cucunya, yang merupakan generasi ketiga. Dalam masa peralihan mereka menghadapi perselisihan yang memakan waktu cukup lama, di antara penyebabnya antara lain beban hutang pada supplier dan kurangnya inovasi pada produk yang ada, sehingga mengakibatkan goyahnya bisnis Jamu Nyonya Meneer.

Jamu Meneer 7
Sumber foto : indonesiakaya.com

Meneer sengaja memasang foto dirinya di setiap kemasan jamu yang ada dengan tujuan untuk menjamin keaslian racikannya, selain itu juga dia menilai jika produk jualannya adalah salah satu merk yang berkualitas. Saat ini, tradisi pengajaran pembuatan jamu telah jarang dilakukan, sehingga penjualan jamu gendong sudah jarang ditemukan. Semakin sedikit anak muda yang ingin belajar membuat jamu. Sebagian besar dari mereka berpikir untuk mendapatkan jamu cukup dengan memanfaatkan jamu yang dijual dalam kemasan sachet dan instan.

RA
Tags minyaktelon pasarbaru indonesia herbal jamutradisional jakarta semarang jamu lauwpingnio nyonyameneer popculture oomph shareit

Baca Juga